Melupa Sederhana

someday

Cawan cappucino panas mendingin. Sirkulasi udara menyempit. Telingaku menuli. Tak mau aku mendengar alasannya lagi. ‘Iya’ isakku dalam sukma.  Iya, iya dan iya.

“Aku ga ada apa-apa sama Sinta, Nai.” Jelas Kak Adi

“Siapa yang bilang kamu ada apa-apa kak?” Jawabku, sinis.

“Tapi kamu kaya gak mau percaya dan gak peduli sama penjelasan aku, aku bingung harus menjelaskan seperti apa, Nai. Kamu tau kan? Aku sayang sama kamu.”

“Bukan hanya penjelasan dan kata sayangmu kak, kalo pada kenyataanya tidak berubah? Apa iya aku harus melupa begitu saja?”

“Oke, mau kamu gimana?”

View original post 254 more words

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s